Paradoks Perkawinan Kita
Rp65,000.00
Bahwa ternyata pernikahan bagi sebagian orang itu lantas tak menjadi prioritas hidup. Apakah salah? Belum tentu. Mari menormalisasi, bukan menghakimi, dengan maksud menghargai mereka yang belum menikah. Atau, jika ada, yang memutuskan untuk “gak nikah”, harus mesti kita hormati juga. Buku ini mencoba memberikan pemahaman tentang hukum-hukum dalam keluarga, khususnya bab perkawinan.
Pernikahan biasanya memang memberi berjuta impian. Namun, mimpi itu juga mempunyai dua sudut: indah atau buruk. Sesiapa pun dari kita tak ingin impian pernikahannya berada di sudut buruk karena terkendala pelbagai hal dan persoalan. Dalam kanon sosial, kita hidup tidak di zaman sempurna yang mengharuskan setiap orang berpasangan. Lain hal manakala meminjam kacamata agama.
Bahwa ternyata pernikahan bagi sebagian orang itu lantas tak menjadi prioritas hidup. Apakah salah? Belum tentu. Mari menormalisasi, bukan menghakimi, dengan maksud menghargai mereka yang belum menikah. Atau, jika ada, yang memutuskan untuk “gak nikah”, harus mesti kita hormati juga.
Kita tidak tahu alasan “pasti” mengapa mereka belum menunaikan jalan ibadah terpanjang itu. Jangan pernah menghakimi sepihak jika tak tahu persoalannya. Kita tak pernah tahu bagaimana keadaan mental, ekonomi, dan hal genting lainnya setiap orang bagaimana. Barangkali mereka yang tak lekas atau tidak mau menikah menyadari ada hal yang mesti mereka selesaikan terlebih dahulu. Setelah semuanya membaik semoga jalan suci pernikahan dimudahkan oleh Tuhan. Amin.






Ulasan
Belum ada ulasan.